MENGHEMPAS SATU NAFAS DI DUA LANGKAH KAKI (Riantologi Puisi)

 MALAM INI AKU MENJADI SIANG

sebelum segalanya menjadi jelas
aku ingin mengatakan..ya sudahlah
berceramah pada pikiran sendiri
lalu bertepuk pada bantal-bantal tak bertulang
aku ingin didera bahagia

lalu dikau mengungkapkan kekesalan
meluangkan segala kata-kata yang dirasa pedas
dan aku tetap memndang dinding
seketika hati terbata dinding
dimana langit malam ini tetap menjadi etalase tak bercermin
indah kulihat tanpa terjual

aku menyayangimu beserta kehancuranku
yang seketika menemuimu aku galau


TAK ADA TEMPAT UNTUK LELAKI SEPERTIKU

kupindahkan kepala ini diberibu bantal
tiap malamnya
malam ini di gua, esok malam di hutan
pagi ini senang bangun di pelabuhan
atau siang ini terbangun dari tidur di pabrik semen

aku seolah tak dapat mendapatkan malam milik sendiri
sementara bintang membahasakan cerita klasik
tentang tidur yang didatangi mimpi 
berlari sekencang rollercoaster


MENCEMBURUI BINTANG TERANG

Aku cemburu..
seketika kamu menegaskan cintamu pada dewa
yang sahajanya membuatmu terbuai

aku cemburu 
atas emas murni ini yg kau letakan begitu saja
lalu kau memilih intan diantara debu

dan aku akan cemburu selamanya
selama apa dikau mengehempaskan mimpiku
dari cerita2 mu

karena aku tak setinggi dewa bintang...

SANG PEMUKUL

hatimu tak pernah terpukul
atau waktumu seolah retak aku cabik2??

lalu aku minta maaf memukulmu dengan ringan

sampai aku tahu

kamu menangis, kepalan tanganku
adalah masa lalu yg tertinggal... 


MENGEHEMPAS SATU NAFAS DI DUA LANGKAH KAKI 

aku tergopoh dgn gagah
hahahaha
dengan sebatang rokok yang bergantian keluar dari bungkusnya
tapi tetap saja sebatang ditanganku
lalu asapnya berkata padaku

apa kamu tetap yakin bisa melajutkan hidup
dengan penyakit ini

lalu aku menghempas jawaban
hiuhhhhhhh
dengan langkah kaki yang yakin

aku takan mati bersama penyakit ini!!!



-antologi puisi rian-bandung 2010_
sementara aku berteriak pada lembah saja...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar