Baru kali ini aku menelaah jelas tentang bakatku. Tapi sudah sejak lama aku memikirkan apa yang ingin aku tulis sekarang. Apalagi beberapa waktu yang lalu, sahabatku Alvian berkata tentang bakatku.
Aku yang penuh bakat, banyak kebisaan, potensi kreatifnya
tinggi. Namun aku belum menemukan celah untuk berkembang dan sukses dibidang
yang aku geluti lewat bakat tsb, atau belum bertemu orang yang bisa ‘menyambungkan’
aku dengan kesuksesan atas bakat-bakat tsb.
Kadang aku sedih dalam banggaku. Kadang aku bangga dalam
keterpurukanku.
Inilah cerita tentang bakatku dan segelintir peristiwa
yang terjadi dibelakangnya.

AKU SUKA MENGGAMBAR SEJAK KECIL
Pada waktu TK, papa sering membelikan buku gambar atau kertas putih 1 rim. Karena dia tahu, aku suka dengan corat coret dan menggambar, daripada di dinding atau kertas-kertas pekerjaan mama papa.

AKU SUKA MENGGAMBAR SEJAK KECIL
Pada waktu TK, papa sering membelikan buku gambar atau kertas putih 1 rim. Karena dia tahu, aku suka dengan corat coret dan menggambar, daripada di dinding atau kertas-kertas pekerjaan mama papa.
Dinding kamar memang penuh coretan, apalagi dulu masih
tidur sama mereka.
Masuk SD, aku mulai mengenal alat-alat warna. Bahkan dikelas 4 SD, aku kenal kanvas dan cat minyak, disaat anak SD di Indonesia belum tentu demikian, tahun 1992-1998. Aku sekolah di SD N Merdeka 5 Bandung yang dikenal sebagai SD negeri terbaik di kota ini, aku SD II dimana hanya SD II sajalah yang pelajaran seni rupanya diajar oleg Pak Dani, beliau alumni Seni Grafis ITB. Kelas yang lain diajarkan oleh guru biasa. Otomatis, SD II secara turun temurun mendapatkan guru yang master dan tugas2nya berbeda, kita lebih maju 5 langkah metodenya. Termasuk abangku sudah merasakan lebih dulu. Abang kelas 5, aku kelas 1.
Namun Pak Dani baru muncul di kelas 4. Pelajaran dari dia layaknya nirmana 2D dan 3D saat TPB SR/Arsitektur ITB. Namun dwimatra dan trimatra disini sesuai anak SD. Disaat anak kelas lain (SD 1,3,4,5 dan 6) atau bahkan anak SD diluar sana masih berkutat di crayon, kertas lipat, kertas kadooo yeaakkkk, batang stik es krim atau sedotan dibikin hiasan. Kebayang sahabat2ku Yovan, Angga, Tyok, Cepe saat itu masih kertas lipat haha. Kampring.
Semua teman tau, aku adiknya Rio Firmansyah.
Masuk SD, aku mulai mengenal alat-alat warna. Bahkan dikelas 4 SD, aku kenal kanvas dan cat minyak, disaat anak SD di Indonesia belum tentu demikian, tahun 1992-1998. Aku sekolah di SD N Merdeka 5 Bandung yang dikenal sebagai SD negeri terbaik di kota ini, aku SD II dimana hanya SD II sajalah yang pelajaran seni rupanya diajar oleg Pak Dani, beliau alumni Seni Grafis ITB. Kelas yang lain diajarkan oleh guru biasa. Otomatis, SD II secara turun temurun mendapatkan guru yang master dan tugas2nya berbeda, kita lebih maju 5 langkah metodenya. Termasuk abangku sudah merasakan lebih dulu. Abang kelas 5, aku kelas 1.
Namun Pak Dani baru muncul di kelas 4. Pelajaran dari dia layaknya nirmana 2D dan 3D saat TPB SR/Arsitektur ITB. Namun dwimatra dan trimatra disini sesuai anak SD. Disaat anak kelas lain (SD 1,3,4,5 dan 6) atau bahkan anak SD diluar sana masih berkutat di crayon, kertas lipat, kertas kadooo yeaakkkk, batang stik es krim atau sedotan dibikin hiasan. Kebayang sahabat2ku Yovan, Angga, Tyok, Cepe saat itu masih kertas lipat haha. Kampring.
Semua teman tau, aku adiknya Rio Firmansyah.
Dulu unik sekali, kakak2nya kelas 5/6, maka adiknya kelas
1/2. Jadi orang tua kua ga berkembang banget pergaulannya. Anak yang besar
lulus SD, eh adiknya masih jadi urusan di sekolah ini. Jadi aku bisa kenal
kakak2nya teman2ku. Minimal, saat mama kita nunggu kakak2 kita les pemantapan,
kita si adik2 unyu maen boy2an atau “Ucing Kuup” sambil nunggu mereka kelar.
Abangku sekelas sama Nazril Irham, anak ganteng yang jago gambar namun pendiam.
Pak Dani Cuma bilang “Nazril mah doyan gambar Dragon Ball dan Street Fighter, jarang ngerjain tugas dengan benar walau bakat gambarnya rangking 1”
Bang Nazril ini pendiam, temen deketnya Bang Yosi yang jago banget gambar Tamiya. Dan bang Nazril inilah yang menginspirasi aku bukan hanya soal gambar, tapi soal fashion. Yaaap dia doyan pake kaos oblong putih di dalam seragam. Aku jg hobi, cuman kaos oblongnya warna warni. Namun sejak SMP dan SMA, aku yang benci pake singlet ini memang hobi pake kaos oblong warna putih didalam seragam sekolah.
Abangku sekelas sama Nazril Irham, anak ganteng yang jago gambar namun pendiam.
Pak Dani Cuma bilang “Nazril mah doyan gambar Dragon Ball dan Street Fighter, jarang ngerjain tugas dengan benar walau bakat gambarnya rangking 1”
Bang Nazril ini pendiam, temen deketnya Bang Yosi yang jago banget gambar Tamiya. Dan bang Nazril inilah yang menginspirasi aku bukan hanya soal gambar, tapi soal fashion. Yaaap dia doyan pake kaos oblong putih di dalam seragam. Aku jg hobi, cuman kaos oblongnya warna warni. Namun sejak SMP dan SMA, aku yang benci pake singlet ini memang hobi pake kaos oblong warna putih didalam seragam sekolah.
Terlihat lebih segar, elegan dan terasa ganteng aja.
MIMPI YANG TAK SEMPURNA
Oke, masa abangku berlalu, mereka lulus dan ini ceritaku.
Soal Nazril Irham, aku juga ga tau kabarnya lagi sampai saatnya 10 tahun
kemudia lagu Mimpi Yang Sempurna keluar di pasaran music Indonesia, ternyata
dia mahasiswa Arsitektur UNPAR dan membentuk band bernama Peterpan.
Kelas 4 SD masa jayaku, yah sekaligus masa sedihku. Aku yang memang dari keluarga sederhana, terhitung jarang lomba gambar. Karena pendaftarannya dianggap mahal bagi mama. Kecuali yang dibayarkan oleh Pak Dani, baru aku ikut. Tapi kelas 4 SD kali pertamanya aku menggondong piala. Juara 1 Lomba Gambar Tingkat SD Ulang Tahun McD. Dulu di BIP, dapat 100rb dulu sangat kaya banget rasanya. Tepat tanggal 22 Desember 1996, itu hadiah hari ibu untuk mama.
Kelas 4 SD masa jayaku, yah sekaligus masa sedihku. Aku yang memang dari keluarga sederhana, terhitung jarang lomba gambar. Karena pendaftarannya dianggap mahal bagi mama. Kecuali yang dibayarkan oleh Pak Dani, baru aku ikut. Tapi kelas 4 SD kali pertamanya aku menggondong piala. Juara 1 Lomba Gambar Tingkat SD Ulang Tahun McD. Dulu di BIP, dapat 100rb dulu sangat kaya banget rasanya. Tepat tanggal 22 Desember 1996, itu hadiah hari ibu untuk mama.
Tanpa alat gambar yang heboh kayak temen-temen kelasku
yang lain, aku cukup berbekal satu kotak crayon tetap bangga bisa memang. Dan
di upacara bendera pagi hari aku kedepan dipanggil karena juara. Senang rasanya.
Hingga aku suka marah, kalo piagamku terlipat, atau balon McD bekas perlombaan tersebut pecah aku nangis seolah kehilangan kenangan haha.
Lomba-lomba selanjutnya teman2ku sering ikut, apalagi yang anak sanggar. Kalo aku, sesuai kemampuan mama papa aja, cukup nangis di kamar. Bukan karena ga ambil kesempatan mengejar juaranya, tapi aku sedih karena seolah aku satu2nya anak yang ga ikut disbanding teman2ku.
Jujur, ini memang kisah-kisah yang gakan terlupa, karena memang ikut lomba itu hal yang susah bagiku. Sampai di piala kedua, lomba gambar ulang tahun Bank Danamon jalan Merdeka, aku juara 3.
Hingga aku suka marah, kalo piagamku terlipat, atau balon McD bekas perlombaan tersebut pecah aku nangis seolah kehilangan kenangan haha.
Lomba-lomba selanjutnya teman2ku sering ikut, apalagi yang anak sanggar. Kalo aku, sesuai kemampuan mama papa aja, cukup nangis di kamar. Bukan karena ga ambil kesempatan mengejar juaranya, tapi aku sedih karena seolah aku satu2nya anak yang ga ikut disbanding teman2ku.
Jujur, ini memang kisah-kisah yang gakan terlupa, karena memang ikut lomba itu hal yang susah bagiku. Sampai di piala kedua, lomba gambar ulang tahun Bank Danamon jalan Merdeka, aku juara 3.
Lagi, Rian yang sederhana dengan sepatu Warrior disbanding
teman2nya yang sudah memakai sepatu dengan lampu menyala jika diinjak, memang
sebagai juara dari SD N Merdeka yang terkenal dengan orang-orang kayanya, padahal
random.
“Kemaren-kemaren
kan Ade udah menang lomba gambar, jadi nanti-nanti lagi. Kalo ada lomba yang
lain ikut lagi. Ade ga usah ikut lomba gambar terus setiap ada yah, selang
seling aja.”
ungkap ibuku jika membujuk aku untuk tidak ikut lomba yang pendaftarannya mahal (Rp.25.000 atau 30.000)
Entah memang punya jiwa branding dan entrepreneur sejak kecil atau bukan, tapi hobiku yang seperti itu yaitu olah kreasi jika bertemu cat, bertemu plastisin, tanah liat, daun, batang pohon, karton dsb. Hingga membuat merk2 sendiri, buat computer dari karton namanya “Rian Comp”, bikin sepatu dari karton “Flash Rian”, bikin bungkus mie “Rian Mie”, banyak lagi seperti “Riandent”, miniature “Bank Rian”, TV karton “The Sonic” dan produk lain yang merek dan bentuknya aku buat dari media lunak.
ungkap ibuku jika membujuk aku untuk tidak ikut lomba yang pendaftarannya mahal (Rp.25.000 atau 30.000)
Entah memang punya jiwa branding dan entrepreneur sejak kecil atau bukan, tapi hobiku yang seperti itu yaitu olah kreasi jika bertemu cat, bertemu plastisin, tanah liat, daun, batang pohon, karton dsb. Hingga membuat merk2 sendiri, buat computer dari karton namanya “Rian Comp”, bikin sepatu dari karton “Flash Rian”, bikin bungkus mie “Rian Mie”, banyak lagi seperti “Riandent”, miniature “Bank Rian”, TV karton “The Sonic” dan produk lain yang merek dan bentuknya aku buat dari media lunak.
Karakter favorit jaman SD yang sering digambar adalah
tokoh2 Street Fighter, Dragon Ball Z, Saint Seiya Ksatria Baja Hitam dan Power
Ranger.
MIMPI YANG
SEMPURNA
Mimpi masuk FSRD ITB sudah sejak kecil. Namun kala SMA,
aku sedih ketika yang lain sudah mulai sibuk les bimbel di GO, SSC dll. Secara
kemampuan ekonomi aku tak diberi jalan untuk bimbel di Villa Merah. Apalagi
mama papa sudah keluar banyak uang untuk bimbel jaman abangku SMA, jadi
anggaplah aku ga kena rezeki itu lagi.
Temanku banyak banget yang bimbel disana. Kadang aku sedih, karena saat SMA ketika menyadari aku tak bimbel, artinya aku juga takan bisa jadi mahasiswa SR ITB. Aku suka ngerasa terpuruk sendiri memang, ga bisa kursus bahasa inggris, bimbel SR, les penyiar radio, les nyetir mobil, les computer dll yang saat itu lagi happening di lingkungan sekolahku.
Aku memang dikenal sebagai “anak seni”, selain KINGS OF DRAWING jaman SMA (anggap seperti itu haha), aku juga menjadi ketua Bengkel Seni kala itu (2002-2003) eskul seni rupa, teater dan kreatifitas.
Temanku banyak banget yang bimbel disana. Kadang aku sedih, karena saat SMA ketika menyadari aku tak bimbel, artinya aku juga takan bisa jadi mahasiswa SR ITB. Aku suka ngerasa terpuruk sendiri memang, ga bisa kursus bahasa inggris, bimbel SR, les penyiar radio, les nyetir mobil, les computer dll yang saat itu lagi happening di lingkungan sekolahku.
Aku memang dikenal sebagai “anak seni”, selain KINGS OF DRAWING jaman SMA (anggap seperti itu haha), aku juga menjadi ketua Bengkel Seni kala itu (2002-2003) eskul seni rupa, teater dan kreatifitas.
Tapi kelas 3, aku seolah kehilangan jati diri gambarku.
Males dengan yang namanya gambar-gambaran, karena sedang labil jika ingat aku
ga bisa ikut bimbel Villa Merah.
Hingga saat SMPTN tiba, aku tidak sepenuhnya mengejar SR.
Bahkan memilih jurusan lain, dr berbagai kampus pula. Aku diterima banyak saat
itu, UNISBA, Sekolah2 Tinggi, Unpas. Tapi aku diterima juga SMPTN di Seni Rupa
UPI. Namun karena kendala ekonomi saat itu, aku telat daftar ulang dan baru
bisa membayar saat masa “Ospek” usai dan aku tidak ikut. Tapi kala itu juga,
papa mama memberikan pertimbangan padaku, bicara demi bicara, akhirnya aku
memutuskan tidak kuliah tahun 2004 itu. Apalagi SR UPI bukan jurusan Seni Rupa
untuk seniman, tapi untuk jadi guru.
Beneran lho ini, jadi ketika akan berangkat ke UPI, mau
bayar uang muka, saat itu kami bertiga berunding, hingga keputusanku yang sudah
memakai sepatu dan kemeja ini berkata “Yaudah
gapapa, Insya Allah tahun depan kita kejar lagi buat kampus yang lebih bagus” –Tanpa
sedih.
Setelah setahun itu aku kerja tapi tidak jelas dan
pindah2. Suatu hari aku membuka internet dan melihat perihal FSRD ITB.
Dan pada Februari 2005 itu, aku keluar warnet sambil
sumringah setengah mati, jalan kaki menuju rumah dengan semangat. Aku langsung
memberi tahu mama. Cerita demi cerita, akhirnya aku mendaftar USM ITB dan
mengikuti pertarungan ini mati2an hingga aku diterima di FSRD ITB.
Yah, aku semangat sejak membuka internet dan melihat
masuk FSRD ITB bisa 0 Rupiah. Jadi aku kejar perjuangan tsb. Tidak ada SMPTN,
tidak ada ikut saringan masuk jurusan lain. Hanya FSRD ITB satu2nya yang aku
kejar. Dan masuk J
“Mampu ga mampu, ade harus kuliah. Harus kuliah, soal dana nanti kedepannya, kita usahakan. Itu harus jadi jalan Ade. Kita gam au, Abang kuliah masa kamu enggak. Nanti juga abang sudah kerja kedepannya, Insya Allah sudah bisa bantu sekolah ade” ungkap papaku.
Eittssss… bentar, ada satu kisah yang penting selain
inspirasi dari Pak Dani tadi.kita harus mundur ke bulan November 2004. Beberapa
bulan sebelum USM ITB. Aku dipertemukan di angkot Kalapa-Dago dengan Bapak dan
Ibu tua namun segar dan baik, dengan anaknya yang aku panggil bang Khalid Zabidi.
Siapa dia? Nanti akan aku bahas khusus di catatan tentang Alumni SR ITB pemimpin long march Bandung-Jakarta penurunan Soeharto dari kursi Presiden ini.
Siapa dia? Nanti akan aku bahas khusus di catatan tentang Alumni SR ITB pemimpin long march Bandung-Jakarta penurunan Soeharto dari kursi Presiden ini.
-Rian, Bandung 7 September 2013-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar