Bumi Yang Merindukan Hijau, Menunjukan Cara Berbicaranya Pada Mahasiswa

Bumi Yang Merindukan Hijau, menunjukan Cara Berbicaranya Pada Mahasiswa

Ini sisi lain dari fatwa kehidupan
dipenghujung tahun yang gemerlap
akan nista seorang raja
meniadakan senyum 20 orang lelaki
mendadak..dan menyakitkan

Ini memang akhir tahun..
percaya saja selalu ada badai menjadi cerita
ada laksamana malaikat menunjukan tuah
pada catatan kehidupan bumi
semesta yang butuh berkehendak
inikah torehan tanpa amarah

Ini bukan amarah bumi memberi bencana
tak ada banjir atau kekar gempa
Namun dia lelah diinjak jutaan roda mesin
dengan kentut yang kotor dan membunuh nada hijau

Ini memang sisi lain..
tapi inilah ceramah sang semesta

Inilah yang dikatakan bumi pada manusia
yang menyentuh hati emosi mahasiswa gajah raksasa
meributkan nilai sejahtera
meributkan nilai yang tak tentu dihirup anak cucu

Inilah kisah merajalela sang sepeda muda
menjadi tambatan terakhir sebuah kehidupan bumi Rasulullah
selalu ada hiaju setlah ganasnya merah
bunga matahari tetap pada sejuknya...
hijaunya bensin tetap pada hakikinya

Inilah segala kejadian yang memusingkan
seperti ujian akhir semester yang berakhir
lalu ujian awal semesta baru bergulir...
Dengan pertanyaan pada kodrati embun pagi
"adakah lahan parkir untuk kami para embun pagi"
bersama kesejukan rumput yang berpantun
"adakah lahan parkir untuk kami kupu-kupu"
bersama rinai cemara harta oksigen energi raga

Inilah kisah para barata..
memberi aturan main pada kisah patetis sebuah keserakahan
kampusku..rumahku..
bumiku...rumahku...
sampai terfikir...mengagungkan kampus penuh tamak
seperti melupakan kehidupan anak cucu kita

Inilah sisi lain...
ketika bumi yang rindu kesejukan
menujukan caranya berbicara pada mahasiswa gajah raksasa..

-rian,18 desember y2k10, 02.00 wib-


alam menunjukan caranya...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar