Berlari dengan dua kaki adalah anugrah terbaik yang aku miliki
namun kadang aku lupakan.. Tuhan pun dengan begitu bijak mengingatkan aku sebuah kekuatan terbaik.
Kekuatan yang patut aku sadari..adalah penopang langkahku dan sayap emas tak tersentuh.
Ialah doa.
Aku Raya, seorang pelukis yang berjalan dengan dua kaki..dan meraih segala mimpi yang begitu selaras langkah kakiku.
Hari ini 22 Desember 2010, aku dengan segala yang ada didepanku, baru saja bersedih...
bahkan aku masih terlampau sedih malam ini.
Kemarin bukanlah hari terbaik dalam hidupku, dan tak ada teman yang wajib aku ceritakan aku sedang sedih.
Aku terlalu sombong dengan kemampuan menggambar dan melukisku. Aku merasa hebat, yang merasa tangan kananku adalah mesin imajinasi yang mampu merampung warna-warni dan terlihat spektakuler dimata para pelihat.
Aku selalu sombong...dan aku masih sombong dengan segala prestasi seniku sampai saatnya hari kemarin tiba.
Tanpa aku kelit lagi, ternyata aku selemah itu...
Sekali lagi aku bilang..kemarin bukanlah hari terbaik dalam hidupku. Aku telah dijatuhkan, Sidang Pertama Tugas Akhir Studio Lukisku,membawa aku pada kegagalan yang luar biasa, aku benci gagal, pembantaian demi pembantaian menyudutkan aku pada kegagalan. Hingga diputuskan, aku harus melanjutkan proses tugas akhirku lebih lama lagi.
Aku berjanji kepada bunda.
"Ma, doakan yah, bulan Februari ade Sidang terakhir, dan akan memakai toga bulan April. Insya Allah"
Tapi siang terburuk ini, aku terkalahkan oleh sekedar kalimat - kalimat. Bersama air mata yang beradu dengan air hujan, aku menyesali diri sendiri yang lemah ini. Begitu banyak masalah dalam hidupku, dan Tugas Akhirku tak aku asuh seperti adik sendiri. Sidang pertama aku hancur dan dibantai dengan bodohnya.
"Kamu tidak layak untuk masuk ke Sidang berikutnya, alangkah lebih baik kamu mengulang kembali TA di semester baru nanti"
22 Desember ini, segala rahasia masih jadi teman di kamarku. Mama hanya tahu aku stres dengan sidang kemarin. Ayahanda tidak tahu bahwa aku gagal dengan segala mimpiku.
"Mam..aku mundur, aku baru bisa sidang bulan Mei.." TIDAK!!! itu bukan kalimat terbaik yang harus mama dengar di pagi ini.
Aku masih kalut, apalagi jika melihat mesin jahit di kamar mama. Karena aku percaya, begitu besar sejarah yang diberikan mesin jahit ini sampai aku bisa berdiri di kampus terbaik negeri ini.
Baiklah, aku bermain saja dengan sejarahku lain.
Ku buka social networking pada sebuah tab di layar komputer, lalu sampailah pada detik aku menyapa temanku
Raya.Pradana : woi sedang ngapain lo??Anggiova : biasalah, ngerjain proyek, ada yang pesen layout interior cafeRaya.Pradana : haha sibuk betul dirimu ini hahaAnggiova : mana belum kelar nih ngelukis cewe gw, dia kan ulang tahun bentar lgi.Raya.Pradana : wah..bukannya mau bikin lagu yah buat dia?Anggiova : asalnya sih, tp laptop saya baru aja rusak lagi. Jd aku ga bisa buka program Fruity LoopsnyaRaya.Pradana : weww.bukannya baru dibetulin yah kemarin di Lucky Square?? kok dah rusak lagiAnggiova : ga tau nih,pgn gw kubur aja sekalian haha. Btw,ada apa nih,tumben nyapa??Raya.Pradana : haha, keparat lo, lo kira gw ada butuhnya doank nyapa lo. idihAnggiova : gw benci sama orang yg klo ada maunya doank, baru baik ama gwRaya.Pradana : idih apa sihh. nggak,gw cuma mau ngingetin. ini tgl 22 desemberAnggiova : lah..knpa emang? ada tanding basket himpunan?Raya.Pradana : mmm..lupa kan ama sejarah lo sendiri. lo inget ga tgl segini 3 tahun lalu? kita jd pejabat acara terbesar di ITB woiii..hahahaAnggiova : wah..iya Pagelaran Seni Nusantara..gila dah 3 tahun aja, lo inget muluRaya.Pradana : iya lah..bagi gw..kenangan membuat kita senyum, sejarah membuat kita banggaAnggiova : iya juga..wah,gila gw lupa. tengkyu yah dah ngingetinRaya : yaudah semangat deh, sori ye klo ganggu, jangn lupa minggu depan kita ada tanding basket.
Dialog siang itu seolah menghibur kekalutan hatiku...
Mengingat-ingat kembali kisah di tahun-tahun silam aku pernah menjadi Raja di acara Seni terbaik di kampusku
Aku ingat sekali saat event meriah tersebut, mama muncul di belakang panggung dan menyapa aku yang sedang beristirahat sebentar. Dia menyaksikan sendiri anaknya sudah sebesar ini, dan sehebat kala itu.
Mama bangga..tepat saat Hari Ibu sedunia, aku membuat mamaku tersenyum melihat anaknya sesukses yang tidak pernah dia bayangkan.
Umurku kini 24 tahun, dan aku selalu bangga dengan tanggal 22 Desember. Betapa tidak selalu ada bunga yang aku tanam di hati mama, selalu ada kupu-kupu yang aku lepaskan menuju tempat tidur mama, selalu ada pelangi yang aku tiupkan di pagi ceria mamaku.
Dan selalu ada cinta bagi perempuan yang selalu terdengar lirih menyebut nama "raya" dalam doa shalat malamnya yang tepat disebelah kamarku.
"Ya Allah, jika rezekiku jauh, dekatkanlah pada anakku"
***
Aku harus menangis dengan segala keadaan hari ini....bukan hari sang ibu termanis yang akan ia terima.
"Ade..mama gorengin sosis yah..dari siang belum makan"
"Ade..udah Ashar belum??"
"Ade..ngerokonya jangan terus-terusan"
Begitu terngiang di benakku, kalimat-kalimat ini yang terdengar dari luar pintu kamarku. Suara seorang ibu kepada anak bungsunya.
"Ade..cat-cat lukisnya tadi pagi mama beresin, soalnya berantakan banget di kamar TV. Ade sih nginep di rumah Andri, jadi mama beresin. ga enak ngeliatnya klo ada tamu. Mama taro semua di lemari hitam"
Setelah aku menjawab aku pun segera menuju lemari hitam tempat dimana segala peralatan lukis, gambarku tersimpan. Siapa tahu ada cat yang tumpah atau kuas yang tidak terendam di minyak cat.
Tepat saat aku menyapa cat-catku, ternyata benar saja. Ada satu tube cat yang berceceran keluar.
Cat hitam!! ahh..ini kan sulit dibersihkan. Asalnya aku mau kesal pada mama. Tapi tidak mungkin juga, dia yang sudah merapihkan. "Aduh, dah dibilangin kalo mau beresin cat, biar ade aja!! ntar ada yang suka tumpah atau ga kerendam tinner trus kering" itu hanya bisa aku ungkap di hati.
Perasaanku saat itu tidak karuan. Hari yang begitu tidak sempurna bagiku.
Tapi rasa amarah seketika berhenti ketika aku mendapati, cat hitam yang tumpah itu mengenai sebuah benda sakral yang ada disekitarnya.
Piala lomba gambar terbaik dan pertama dalam hidupku.
"Raya Aditya Pradana
Juara 1 Lomba Gambar HUT Mc Donald
Bandung Indah Plaza, 22 Desember 1996"
-----------------------------------------------------------------------------
Aku Raya, bocah kecil yang suka berpetualang walau hanya di sekolah sendiri, haha. Aku suka maen ke gedung lantai 2 sampai lantai 5 SD Negeri Tunas Cendekiawan ini, walau gedung baru ini belum jadi. Tapi bermain bola bersama debu-debu semen, dan tentunya bersama teman-teman SD 2 ku ini adalah hal yang mnyenangkan diatas gedung lantai atas.
Umurku 10 tahun, tapi aku sudah jatuh cinta. Dan aku hanya ingin menang Lomba Gambar, agar anak cewe yang aku suka bilang "Rayaaa..kamu hebat yah,menang lomba,ajarin aku gambar donk!!"
Cinta monyet kecil.
Dan 22 Desember 1996 ini, aku lupakan nonton Power Ranger di Garuda Televisi, jam 10 pagi ini.
Aku harus sudah siap dengan segala kekuatan dan tangan ajaib yang aku punya. Crayon dan alat gambar terjituku. Ulang tahun restoran cepat saji yang selalu aku nantikan happy meal tiap bulannya. Tepat di jalan Merdeka Bandung tidak jauh dari Sekolah Dasar yang mengantarkan aku di masa depan menjadi mahasiswa Seni Rupa ITB,tempat guru gambarku menuntut ilmu dimasa mudanya dulu.
Aku bahagia disiang ini. Bukan karena dapat burger gratis dan happy meal para tokoh Loney Tones. Tapi namaku disebutkan menjadi juara pertama.
Itu adalah Hari Ibu, aku senang mama bisa tersenyum bisa melihat anaknya sehebat ini. Mama mengecup keningku.
Aku sudah berfikir belanja ini itu dengan uang yang baru aku dapat. mama hanya menyarankan untuk menyisihkan sebagian untuk membeli sepatu dan alat gambar baru.
Aku juga sadar, aku adalah bocah kecil yang tidak seberuntung teman-temanku. Tapi bukan berarti uangku yang banyak ini aku habiskan untuk beli mainan, aku sadar aku tidak boleh menjadikan ini kesempatanku untuk menjadi orang kayak sebentar.
Aku titipkan uangku pada mama, dia pasti lebih pintar untuk mengatur. Dan setdaknya, mesin jahit ibuku akan bekerja lebih santai, karena ibu sedang mengantongi uang yang bisa dipakai untuk keperluan sehari-hari.
Hari ibuku.....begitu sempurna..
Sejak hari itu aku percaya...setiap tanggal 22 desember, akan menjadi hari terbaik di dalam hidupku setiap tahunnya.
------------14 TAHUN KEMUDIAN-----------------
Mesin jahit ibuku masih saja terdengar berputar.
Dan aku masih seorang Raya yang sedang menapaki jejak akhirnya sebagai mahasiswa.
tapi piala terbaik yang ada didepanku saat ini, membuat aku menangis...
bukan karena aku kesal terkena cat..
bukan karena hariku semakin kacau..
bukan karena catku habis terbuang percuma..
bukan karena pialaku kotor dan sejarahku jadi hilang...
tidak...
Tapi piala emas ini mengingatkan aku akan cinta seorang mama.
Perempuan terhebat yang aku terima dari Tuhan...ketika aku diberi sadar, bahwa didunia ini ada yang bernama "mama"
Aku menangis...
yang biasanya aku selalu suka sehabis hujan di bulan Desember
kini aku menangis, karena aku yakin takan ada pelangi sehabis hujan sore ini..
di Hari Ibu ini...aku bukan hanya tidak bisa memberikan bunga terindah dalam hidupnya
tapi justru aku memberikan kabar terburuk dari langkah yang ia impikan.
"Maafkan aku mama, lagi dan lagi aku merepotkan hatimu. Apa yang dikau inginkan, untuk kali ini tertunda. Belum saatnya engkau melihat aku memakai toga. tapi aku berjanji, aku akan memakai toga."
Aku Raya..seperti namaku, aku lelaki yang hidup dengan raya. semangat dan semarak penuh daya.
Dan dia Mamaku. Perempuan terbaik didalam hidupku.
Mama yang selalu berkecil hati karena melihat anak bungsunya ditinggal teman seangkatan kuliahnya yang sudah duluan lulus.
Mama yang selalu merasa gagal karena tidak bisa mnyekolahkan anaknya dengan lancar.
tapi dialah Mama yang sangat percaya...
bahwa anak bungsunya ini...akan menjadi orang yang hebat di masa yang akan datang...
dialah Mama yang sangat percaya..Doa tengah malam nyalah yang akan selalu mendampingi langkahku menuju titik terang.
Mama yang selalu percaya bahwa mesin jahit yang selalu menjadi temannya itu, akan mengantarkan aku menjadi seorang Sarjana Institut terbaik di negeri ini.
-penulis, Rian Ardan BB-

22 Desember 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar